Tentang Impian Versi Dewasa

Apa impian Anda dalam hidup?

Pertanyaan kayak gini kalau dikasih ke anak umur 5 tahun mungkin bakal cepat dijawabnya. Nggak pakai mikir.  

Coba kalau dikasih ke yang seumur kita-kita gini. Bisa tujuh hari tujuh malam mikirnya nggak kelar-kelar.

Ini bener kejadian sama diri saya sendiri bulan lalu. Waktu ikut pelatihan bisnis “Wealth Mindset” sama coach Tommy Siawira, kita dapat pe-er untuk jawab 16 pertanyaan. Dan pertanyaan pertamanya adalah si impian itu.

Bingung juga sih, apa hubungannya pelatihan bisnis sama impian kita? Impian itu kan sesuatu yang nggak nyata, nggak terukur, sementara bisnis itu sesuatu yang nyata banget, yang terukur. Di saat yang bersamaan, saya diminta dengerin audiobook Anthony Robbins, “Awaken The Giant Within”. Di bagian introduction pertanyaan saya terjawab. Kita dulu pasti pernah punya impian, punya harapan tentang kehidupan seperti apa yang mau kita wujudkan. Impian itu makin lama makin pudar seiring kesibukan kita menjalani rutinitas hidup. Frustasi sama problema hidup kita pun jadi malas mengejar impian, malas berusaha mengubah nasib dan ujungnya ya pasrah aja lah. Padahal saat kita memutuskan untuk mewujudkan impian di situlah nasib berubah.  

Itu sebabnya harus tahu apa sebenarnya yang jadi impian kita. Bisnis kita, pekerjaan kita, adalah kendaraan kita buat mewujudkannya. Kalau ini Google Maps, impian kita itu “destination” yang mau kita tuju. Kalau di tengah jalan ada hambatan, kita nggak bakal mundur atau balik arah, justru cari jalan lain biar bisa terus sampai ke tujuan. Sedikit demi sedikit impian kita jadi sesuatu yang nyata, yang terukur.  

Setelah sekian lama nggak berani punya impian, tiba-tiba di bisnis ini kita disuruh punya impian lagi. Mencoba mengingat lagi kehidupan yang dulu pernah kita impikan. Mungkin karena saking lamanya nggak disentuh, kemampuan bermimpi itu jadi sedikit berkarat, hahahaha. Makanya lamaaa…banget mikirnya buat jawab satu pertanyaan itu. Ditambah lagi ada perasaan geli campur nyinyir setiap mau menuliskannya. “Iihh…ya ampun, impian banget nihh.” Well…you just have to shake it off! Di satu titik kita harus berhenti mengolok-olok impian hidup kita sendiri. Orang lain boleh aja menjadikannya bahan candaan, karena itu bukan impian mereka, bukan hidup mereka.  
Coba yuk latihan mengingat-ingat kembali impian kita. Mungkin sudah banyak yang menguburnya dalam-dalam lengkap dengan tulisan di batu nisan “nggak mungkin tercapai”.  

Kenapa nggak kita coba bangkitkan lagi? Kalau jalan yang kita ambil sekarang ternyata bikin kita makin jauh dari si impian, belum terlambat buat cari jalan baru.

Yuk!

Jadi, apa impian Anda dalam hidup ini?

Tentang Rencana dan Segala Kejutannya

img_20170209_101433_170

Minggu lalu, empat hari sebelum berangkat ke Bangkok, saya harus dirawat di rumah sakit karena Typhus. Nyebelin yah. Orang sudah rencana mau jalan-jalan kok tiba-tiba dikasih sakit.

Banyak yang bilang karena kecapekan, makannya kurang bersih, telat makan, dll, makanya bisa kena typhus (lagi). Padahal nih, sudah yakin banget cukup istirahat, nggak jajan makanan di pinggir jalan, jaga waktu makan biar nggak telat.
Kesel juga sih awalnya. Ya gimana lagi…mungkin udah waktunya sakit ya udahlah ya. Di rumah sakit saya cuma berpikir gimana caranya bisa pulang cepat. Waktu masuk UGD itu saya udah dehidrasi karena semalam sebelumnya muntah-muntah terus. Satu-satunya cara biar punya tenaga lagi saya harus bisa makan tanpa pakai muntah-muntah. Kalau saya sudah bisa makan normal lagi, pasti bisa pulang cepat. Dan Alhamdulillah, makan malam pertama saya di rumah sakit berhasil masuk perut tanpa dikeluarin lagi.

Sehari sebelum berangkat ke Bangkok, saya sudah boleh pulang sama dokter. Yeay!

Banyak yang kaget begitu saya keluar dari rumah sakit, besoknya kok sudah jalan-jalan ke Bangkok. Ada yang bergurau tanya ke saya “ini lo beneran boleh pulang? Nggak melarikan diri dari rumah sakit kan?” Hahahaha, ya kaleee…

Rencana ke Bangkok itu sebenarnya sudah ada dari tahun lalu. Justru harusnya berangkat tahun lalu tetapi karena satu dan lain hal baru kejadian di tahun ini. Ini memang bukan pertama kalinya ke Bangkok, tetapi saya tetap antusias buat ke Bangkok lagi. Apalagi sekarang perginya sama keluarga Prudential. Pasti punya keseruan yang berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Makanya saya ngotot harus tetap berangkat. Lagipula siapa juga sih ya yang nggak suka liburan gratis 😉

Setiap rencana pasti ada kejutannya. Mau ke Bangkok aja dikasih typhus. Kebayang nggak kalau tahun ini kita punya rencana yang lebih besar dari liburan ke Bangkok? Bisa jadi lebih “seru”.

Mungkin yang Maha Punya Rencana mau ngetes mental saya doang. Mungkin Dia mau ngasih kejutan lain yang lebih besar di balik kejutan yang saya alami sekarang. Tinggal balik lagi ke diri sendiri, seberapa penting rencana itu mau diwujudkan. Saya yakin Dia nggak mungkin bikin ciptaannya sengsara. Saya yakin dengan izinNya, rencana-rencana besar di tahun ini dan tahun-tahun mendatang, pasti bisa kejadian.

Bismillah…

Note: Nggak cuma ke Bangkok  yang gratis, sakit saya kemarin pun dibayarin sama Prudential. Dari tagihan Rp 10 juta sekian, saya cuma bayar kelebihan sekitar Rp 151 ribu. Hamdalah!

P_20170206_155524.jpg

Tentang 2016 yang Maju Terus


-ditulis di hari terakhir 2016-

Di penghujung tahun seperti ini memang paling pas mengingat ulang kejadian 2016 kemarin.
Buat saya tahun ini adalah tahun belajar bersyukur.
Belajar bersyukur dengan menghargai apa yang sudah kita perjuangkan di tahun sebelumnya.
Belajar bersyukur atas kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.
Belajar bersyukur dengan tetap melangkah walau banyak jatuhnya, banyak salahnya, banyak bingungnya. Maju terus, nggak tergoda untuk melihat ke belakang.
Belajar bersyukur karena masih mau belajar. Anjuran Steve Jobs untuk “stay hungry stay foolish” memang perlu banget kita terapkan. Dijamin kita terhindar dari bahaya songong, sotoy dan somplak.

Terima kasih 2016 atas pelajarannya selama setahun ini. Saatnya kosongkan gelas lagi buat menampung ilmu baru di 2017.
“Dream big, pray bigger”

“I never look back, darling. It distracts from the now” – The Incredibles

Mobil Mama

Di jaman Uber & Grab Car begitu mudah diorder, punya mobil pribadi rasanya butuh-nggak butuh. Apalagi dengan lalu lintas Jakarta yang makin aduhai.
Terus kenapa saya masih pengen punya mobil?
Karena gengsi. Hah! Ahahahahaha.
Gini lho…
Dulu waktu masih ada papa, kita selalu punya mobil. Waktu papa mulai sakit, mobil jarang dipakai dan akhirnya dijual.
Berhubung saya nggak bisa nyetir dan aplikasi transportasi mulai menjamur, jadi nggak terasa penting punya mobil lagi.

Kalau mikirin diri sendiri saja akan selalu cukup. Tetapi kan ya kita hidup nggak sendirian. Ada orang-orang sekitar kita yang harus dibikin bahagia.
Saya sekarang cuma punya satu orangtua, mama. Selama jadi anaknya belum bisa ngasih sesuatu yang berharga. Memang mama nggak pernah minta apa-apa tetapi senang juga kali ya kalau saya kasih hadiah seperti mobil, misalnya. Kalau dulu keluarga kita selalu punya mobil, kenapa sekarang setelah papa nggak ada, saya nggak bisa melakukan hal yang sama.
Kalalu dulu papa bisa harusnya saya bisa lebih hebat dari beliau. Ya kaann…
Gengsi banget kalau perjuangan kita kalah hebat dari mereka.

Mungkin bagi sebagian orang beliin mobil buat orangtua mereka biasa saja. Tetapi buat saya yang biasa-biasa saja, ini pencapaian luar biasa. Itu sebabnya di plat mobil hanya ada tanggal lahir mama dan papa.

Tanpa bermaksud pamer atau apa pun, saya cuma ingin berbagi cerita siapa tahu ada yang terinspirasi. Bisa kasih yang lebih buat orang-orang yang kita cintai, walaupun mereka nggak pernah meminta lebih. Toh kita kalau dikasih bonus juga nggak nolak kan…
Apalagi kalau bonusnya langsung dikasih dari yang Maha Kaya Maha Luas Pemberiannya.

Ini baru permulaan. Doakan langkah saya selau dikuatkan, diridhoi, diarahkan semakin dekat dengan impian-impian saya. Semoga mama saya masih diberi waktu olehNya.

-ditulis Oktober 2016, satu hari setelah ulang tahun papa-

Hope For The Best Prepare For The Worst


Mama saya adalah orang paling sehat di rumah. Jarang banget sakit, paling cuma batuk-pilek-pusing yang minum obat warung juga sembuh. Nggak pernah menyangka kalau suatu hari bakal masuk rumah sakit 3 kali dalam satu bulan (!)

Kejadian pertama di minggu awal puasa, masuk RS Gandaria karena  ISPA dan tifus.  Lima hari dirawat, total billingnya sekitar Rp 15 juta.

Satu hari setelah pulang, mama saya ngeluh susah BAB. Perutnya pun terasa melilit terus. Akhirnya kita balik lagi ke RS Gandaria. Beberapa hari di sana keadaan mama masih belum membaik. Dokter menyarankan buat colonoscopy untuk dapat analisa yang lebih akurat. Karena di RS Gandaria belum ada alatnya, kita pindah ke RS Mayapada Lebak Bulus. 

Alhamdulillah setelah tindakan colonoscopy kita jadi tahu penyebabnya. Mama kena radang usus, makanya susah BAB dan bikin perutnya melilit sakit terus. Tiga hari setelahnya mama boleh pulang. Selanjutnya bisa berobat jalan.

Terus apa mama saya pakai asuransi? ALHAMDULILLAH IYA.

RS Gandaria belum jadi rekanan Prudential jadi kita bayar dulu baru direimburse. Rawat inap pertama total billingnya sekitar Rp 15 juta dan diganti Rp 9,9 juta.

Rawat inap kedua sekitar Rp 18 juta masih dalam proses pengajuan.

Nahh…gongnya waktu di RS Mayapada. Kebetulan ini rumah sakit rekanan Prudentia jadi pas masuk kita nggak harus deposit uang, tinggal tunjukkin kartu Pru HS. 

Total billingnya sekitar Rp 50 juta, dibayarin sama Prudential sekitar Rp 25 juta lebih!

Iya kita masih harus bayar sekitar Rp 24 juta tetapi jauuuhh lebih kecil dibanding Rp 50 juta tooh.

Kenapa ada kelebihan bayar?

1. Plafon rawat inap mama untuk kamar Rp 500 ribu/hari tetapi beliau minta upgrade ke VIP. 

2. Ada tindakan yang belum bisa dicover karena mama belum setahun punya manfaat Pru HS.

Terus buat apa punya asuransi kalau nggak semuanya dicover?
Melihat angka Rp 50 juta di jam 6 pagi itu sumpah nggak enak banget! Begitu tahu ada yang  meringankan setengah beban kita, rasanya LEGAAAAAAAAA… 

Mama baru 6 bulan jadi nasabah Prudential. Baru ngeluarin Rp 5 juta buat premi. Sementara yang dikeluarkan sama Prudential  hampir Rp 35 juta.

Mungkin banyak dari kita yang beruntung punya orangtua berkecukupan dan masih sehat. Mungkin nilai aset mereka lebih banyak dari tagihan rumah sakit mama saya. Namun kalau terjadi kondisi seperti mama saya, apa aset tadi bisa langsung likuid?

“Hope for the best prepare for the worst”

Alhamdulillah, saat masih sehat kita sudah siapin perencanaan terbaik buat orang-orang yang kita cintai.

Semoga kalian juga.
#simplechange

#simpleplanning

#lifeisawesome

#happylife

Oh-So-Wow!

20160410_224423_1

Pernah lihat kan empat halaman koran Kompas isinya nama-nama orang Prudential semua? Pernah terlintas nama kita ada di salah satu halaman itu? Mungkin banyak yang nggak pernah. Sama seperti saya. Nggak pernah kepikiran suatu hari akan menemukan nama saya di situ.

Gimana rasanya?
Oh-so-weird! Hahahaha…Weird in good way yah. Baru sekali ini seumur hidup ngerasain mencapai sesuatu. Dan kok ya, Alhamdulillah, masuk koran bersama 1.938 orang lainnya. Banyak aja yaah…tetapi memang di situ sensasinya. Belum pernah kan promosi bareng seribuan orang? Kalau di satu kantor ada satu jabatan yang diincar semua orang sudah pasti hanya satu orang yang dapat. Nah kok ya di sini bisa ada ribuan orang punya jabatan yang sama. Nggak pakai sikut-sikutan, jilat-menjilat, apalagi dukun-dukunan. Naik panggung ramai-ramai, sama teman sendiri atau saudara sendiri. Oh-so-wow!
Kan enak ya kalau sukses berjamaah kayak gitu. Ungkapan “lonely at the top” mungkin nggak kejadian sama kita.

Seperti kata Uncle Ben, “With great power comes great responsibility”, setelah ini ada tanggung jawab besar buat melangkah menuju fase selanjutnya. Tahun depan harus ada nama kita lagi di koran itu. Nama teman-teman kita, keluarga kita, kalau bisa ada juga di situ. Insya Allah, Amin…
Saya sengaja tulis di sini biar jadi penyemangat buat diri sendiri dan syukur-syukur banyak yang ikut mendoakan 🙂  Mana tahu yah nama kamu tahun depan ada di situ juga.
If someone offers you an amazing opportunity and you’re not sure you can do it, say YES – then learn how to do it later – Sir Richard Branson.

Apakah Aku Harus Lari ke Sudirman Kemudian Belok di Benhil?

Kejadiannya begini.

Hari Minggu, sekitar jam 6 pagi lewat sekian menit, di depan FX Sudirman. Siap-siap mau CFD-an bareng teman-teman SMA. Sebagai pelari amatiran saya sih ngikut aja, toh larinya nyantai.

“Kita larinya nggak sampai HI kan?”

“Nanti jalan aja, Ni, kalau nggak kuat”

Saat itu saya pikir sampai Benhil aja sudah pencapaian kok (kemudian terbayang bubur kampiun + lontong sayur di Bopet Mini).

Lari. Lari. Lari. Kebelet pipis. Masuk ke BRI Tower dulu, numpang pipis. Lari lagi. Jalan. Lari. Lari. Jalan. Lari. Jalan. Lari. Eh. Nyampai lho di Bundaran HI.

Ini pencapaian baru lho. Dari beberapa kali ikut CFD baru dua kali ini saya sampai ke Bunderan HI. Yang pertama itu lebih banyak jalan santainya. Malah sempat duduk dulu di bangku Jokowi. Entah kenapa hari Minggu itu nggak pakai ngaso dulu, bisa sampai ke spot ikonik CFD-an.

Mungkin karena kebawa sama teman-teman saya itu yah. Mereka larinya nyantai tetapi ambisius. Saya pun jadi kebawa semangat mereka untuk nggak menyerah walau banyak yang jualan camilan di sepanjang jalan.

Mungkin begitu juga yang terjadi saat kita hendak mencapai sesuatu. Kita perlu ada di lingkungan yang mendukung kita untuk sampai ke sana. Berada diantara teman-teman yang mau “lari” bareng sama kita. Capek bareng, sukses bareng. Kita perlu punya teman-teman seperti itu supaya bisa saling suplai semangat kalau lagi melambat.

Waktu saya jalan karena kecapekan, sementara yang lain tetap lari, saya berusaha untuk kembali berlari karena takut ketinggalan.

“Pilih teman-teman yang baik. Yang kita bisa belajar dari mereka” Begitu nasehat kebanyakan orangtua kita dulu. Kalau saya lihat lagi sekarang, Alhamdulillah saya selalu dijebloskan ke lingkungan teman-teman yang baik. Mau seberapa gilanya, seberapa bocornya, seberapa ganggunya, mereka membuat saya terus berlari sampai ke titik yang seharusnya saya berada.

 

“Whatever you do in this life, it’s not legendary unless your friends are there to see it” – Barney Stinson

 

 

 

Senin Setengah Enam Sore

image

Berjubel harapan
Gelisah menyodok dari kanan dan kiri
Menyusul waktu sebelum ia tiba
Jangan sampai terlewat

Ke rumah
Ke rumah
Maghrib berjama’ah

Tulisan lama yang tetiba terngiang lagi

Roller Coaster Berujung Pelangi

rainbow1

Hanya orang-orang setengah gila yang berani menaiki roller coaster dengan perasaan gembira
Diputar meliuk
Kepala di kaki
Kaki di kepala
Dan mereka bersorak girang
Semakin kencang
Semakin tinggi
Teriakan semakin ramai
Hanya orang-orang setengah gila yang dengan suka cita memilih berada di atas roller coaster itu karena percaya di ujung setiap putarannya ada pelangi
Dan untuk pertama kalinya saya berani menaikinya

 

imageimage

Negeri Van Oranje – Negeri Sesak Napas

van oranje.jpg

Okay, sebelum ngomongin kelebihannya, kita bahas kekurangannya. Secara visual, menurut saya, film ini berlebihan banget. Semua warna tampil terang benderang. Efek bokeh deman banget tampil. Feel-nya iklan kosmetik banget lah… Sayang sih , karena tanpa berusaha keras pun, sebenarnya film ini secara visual sudah pasti enak dilihat.

 

Nah…kelebihan film ini juga adalah visualnya. Jajaran aktor ganteng diawur-awurin; Abimana, Chico Jericho dan Arifin Putra. Dijamin sesak nafas sepanjang film. Apalagi setiap dengar suaranya Abimana. Atau lihat lengannya. Atau matanya. Atau pas dia ngomong “cukup satu kejadian” Oksigen mana oksigen!

 

Setelah lama nggak nonton film Indonesia di bioskop, film ini amat sangat menyegarkan. Slurp!

Retelling Life

When life overwhelms, I write.

gina s noer

kembali masuk ke kolam mimpi

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Dennis Manalief

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

Aloha!

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

Gratiagusti Chananya Rompas

my writings and other illusions

boy with a hat

writing as a way of life

gelembung kaca

'til nothing is left to be devoured

domestic life poems

diary of a real domestic life drama

gedongproject //

in between puisi in english dan poems berbahasa indonesia. sudah sampai lantai berapakah anda? biarkan syair yang memencet tombol elevatornya. let me take you to the deepest paradise and the coolest hell in the history of man.

In English, please...

wiil write in English once a week. at least.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The Bahagea

Written by Geandini Karina.

Los Angeles Photographer | Santa Clarita Photographer

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

House of Mels

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

Unique & Offbeat Global Travel Tips & Advice -

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

Evelyn Gasman

cerita-cerita acak dari seorang "fusili' yang memang manis, tanpa buatan

Playing Your Hand Right

Showing America how to Live

nawengsasi

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Midwest Sweet Tea

A movement towards balance and self-discovery.

Komunitas BungaMatahari

Semua Bisa Berpuisi!

BuMa the 13th

Proyek Puisi Komunitas BungaMatahari

ArchangelTravel

This WordPress.com site is the bee's knees

Hollis Plample

draws comics

My Journal

Our life is a constant journey, from birth to death. The landscape changes, the people change, our needs change, but the train keeps moving. Life is the train, not the station ~ Paulo Coelho

• RARA MBOL •

I'm just a girl and this is just a blog.

The HoliDaze

Some People Eat, Others Try Therapy. I Travel.

Department Of Love, One Size Fits For All - iHateQuotes

iHateQuotes - which do not inspire me at all!